Manusia Yang Tidak Bisa Hidup Tanpa Tisu

Jujur sajalah, bisa ga kalian terutama perempuan modern untuk hidup sehari tanpa tisu? Yakin susah. Bukan tidak bisa hidup sebenarnya, tapi bakal kesusahan hidup kalau tanpa tisu. Keluar rumah tanpa ada tisu di tas rasanya belum komplit.

Ke mall makan di Solaria, habis makan ga mungkin mau pake lap tangan berjamaah ala rumah makan tempo dulu. Maka butuhlah tisu. Setelah itu jalan masuk Matahari test lipstick dan pensil alis, hapusnya pake apa coba? Tisu. Keluar Matahari ke XXI beli tiket plus cemilan sama minum. Karena gelap dan filmnya seru, makan dan minum sedikit blepotan dan tumpah. Lap mulut sama ngumpulin juga hapus tumpahan pake apa? Tisu. Masa saputangan, ga zaman lagi. Film habis, keluar studio masuk toilet kencing dan perbaiki make up. Lap make up dan air pake apa? Tisu. Ga mungkin pengelola mall sediakan saputangan kotak-kotak di gantungan. Puas jalan terus ke parkiran kendaraan mau keluar mall. Sampai di motor atau masuk ke mobil, berkaca dulu dong. Eh ada keringat karena jalan di parkiran panas. Sedot keringat pake tisu dong supaya elegan, masa pake baju! Pegang setang motor atau setir mobil, eh tangan basah karena berkeringat, ambil tisu lagi. Pokoknya seterusnya deh. Sampe mau tutup mata diatas kasur di rumah sendiri, butuh tisu.

Dari tadi hitung ga berapa lembar tisu? Kalau saya setidaknya butuh 12 lembar tisu dari masuk mall sampai keluar parkiran mall. Kalau kebutuhan di rumah dan semua kegian selain di mall setidaknya butuh 12 lembar lagi, maka sehari butuh 24 lembar tisu. Belum lagi tisu toilet sama tisu masak. Belum juga tisu basah. Tissue for your every needs dong.

Gimana coba kalau calon presiden kita punya pabrik tisu. Kampanyenya cukup sadarkan manusia Indonesia tentang pentingnya tisu. Trus bilang “Kalau saya terpilih, kebutuhan tisu kalian selama tahun-tahun pemerintahan saya akan saya tanggung, FULL! Makanya coblos SuTisuNa! Demi swasembada tisu Nasional”

Itu belum ada apa-apanya. Seorang penguasa negara maju yang berhasil memonopoli industri tisu dunia bakal bisa jadi penguasa dunia. Kok bisa? Ya iyalah bisa. Mulai dari lumpuhkan kantor UN alias PBB dengan memboikot suplai tisu ke kantor pusat PBB. Selebihnya bisa Anda susun sendiri skenarionya.

Titip salam dari pemilik pabrik kertas.

Balikpapan, 31 Oktober 2015

Mengapa orang purba menggambar rupa manusia dalam bentuk aneh

Baru sejak tiga hari belakangan misteri ini terungkap bagi saya. Ga ada yang beritahu, seperti pop up sendiri dari kepala. Eh salah, itu muncul sendiri waktu lagi serius nonton acara Ancient Astronaut di History Channel. Seperti mata rantai misteri yang tiba-tiba terhubung karena bantuan channel no 24 di TV kabel itu.

Awalnya saya heran aja kenapa orang-orang purba di situs peninggalan mereka selalu buat rupa manusia dalam bentuk yang aneh. Ada yang kurus dengan leher panjang, kepala hewan, muka dengan proporsi aneh, dsb. Padahal kalau dianalisa, teknologi mereka sudah maju untuk ukuran zaman itu. Tapi kenapa? Ga sanggup bikin yang realis? Senimannya kurang mupuni? Atau sistim kebut aja kerjanya? Atau mereka pada sengaja bikin supaya aneh, kalau mau disamakan seperti kartun zaman sekarang ada yang model manga, atau kartun model punya Cartoon Network, atau kartun gaya Marvel? Bisa saja sih. Tapi menurutku ada alasan yang lebih masuk akal.

Ada beberapa analogi untuk sampaikan itu. Pertama seperti cara pandang manusia terhadap sesuatu dari saat bayi sampai dewasa. Kalau anak umur 3 tahun disuruh menggambar manusia dijamin pasti akan kacau, beda dibanding kalau dia sudah 30 tahun. Tapi analogi ini mungkin ada kelemahannya yaitu seniman purba kemungkinan besar bukan anak kecil, jadi seharusnya gambar manusia yang ia buat lebih realistis.

Analogi kedua seperti anak tamatan SMA yang masuk kuliah arsitektur sampai selesai. Cara pandangnya akan deasain bangunan saat baru masuk dan saat telah lulus pasti beda. Begitu juga cara dia menggambar denah bangunan terutama, pasti jauh beda. Ada istilahnya practice, experience and time make perfect. Tapi analogi ini ada kelemahannya, seniman purba pastilah sudah lama latihan sampai ia terpilih untuk membuat karyanya.

Analogi ketiga, yang ini adalah menurutku analogi paling mewakili alasannya. Seperti perbandingan modern di era tahun 1960-an dan modern di era sekarang. Jauh beda kan? Desain mobil modern di zaman 60-an dan zaman sekarang beda kan? Otak manusia berevolusi dalam berpersepsi. Mungkin di zaman purba kalau menggambarkan manusia dengan garis lurus dan lingkaran sebagai kepala mungkin sudah nampak seperti manusia, karena otak mereka berpersepsi demikian. Kenapa bisa? Ya karena belum pernah ada yang lebih mutakhir tuk gambarkan itu sebelumnya. Nah, saat ada satu individu memulai ‘gerakan’ penggambaran manusia dengan model yang lebih realistis, maka otak manusia akan belajar berpersepsi demikian. Otak manusia-manusia lain akan terhasut untuk perpersepsi demikian, maka jadilah itu sebagai persepsi massal. Intinya tetap practice makes perfect.

Saya mau bilang bahwa belum tentu tubuh kita persis seperti apa yang kita gambarkan saat sekarang ini. Belum tentu apa yang kita lihat di cermin adalah bentuk.asli tubuh kita. Bisa saja itu hanyalah persepsi otak manusia yang umumnya di waktu sekarang ini. Semua tergantung bagaimana otak kita mengolah informasi. Bisa saja saat otak manusia sudah lebih berkembang, lebih bisa menerjemahkan apa yang ditangkap oleh indera kita, maka bentuk tubuh kita yang sebenarnya akan makin berubah dan tidak lagi nampak dan digambarkan seperti sekarang ini.

Balikpapan, 30 Oktober 2015

Revolusi sihir

Sebenarnya teknologi itu haruslah sederhana tapi efektif dan efisien. Nenek moyang kita dari kampung sudah merintis teknologi yang begitu, tapi sayang kalah oleh western technology.

Tidak perlu pakai rekayasa material, sistem mekanis yang rumit, kabel-kabel bejibun. Satu orang bisa lakukan pekerjaan yang dengan teknologi modern membutuhkan banyak orang dan pengoperasian banyak mesin.

Percayalah bahwa revolusi industri dari Inggris sudah berhasil meng-kuno-kan, men-tabu-kan, lalu perlahan-lahan membunuh teknologi nenek moyang kita bangsa Indonesia. Bahkan berhasil menyetel fikiran kita bahwa modern itu adalah mesin-mesin canggih dan atau dengan perangkat elektronik super.

Pernah kah terbayang bahwa kita tidak perlu televisi atau internet untuk bisa tahu what is happening?

Bagaimana kalau tugas crane 200 ton bisa dilakukan seorang nenek renta hanya dengan ayunan jari di udara dengan sedikit spelling mantra?

Magic!

Dunia akan berbeda seandainya yang happening waktu itu adalah “revolusi sihir”.

Hahaha….

Balikpapan, 01 Juni 2015

Beberapa koleksi diecast

tiff infomation

Beberapa koleksi hot wheels, matchbox, ertl tomy dan maisto. Kalau dibanding punya kolektor ‘asli’, ini sangat tidak ada apa-apanya. Masih banyak lagi hot items yang masih tersimpan di kardus lengkap dengan blister dan box nya, yang sayang untuk di-loose.

Salam,
Mikha, 16 Januari 2015, jam 21:01 WITA, masih di Balikpapan.

Nasib kertas di 100 tahun yang akan datang

Bulan lalu saya berdebat seru dengan teman tentang nasib kertas di 100 tahun yang akan datang. Sebagai futuristis optimistis pastilah saya yakin kertas akan sangat tidak sepenting sekarang di masa nanti. Kataku pabrik kertas paling hanya akan bertahan sampai 50 tahun yang akan datang. Nanti cukup industri rumahtangga yang membuat kertas karena permintaannya akan sangat sedikit dan itu pun paling kertas jenis artistik aja yang akan diperlukan.

Dasar pemikiranku simpel aja: teknologi modern akan menemukan media lain pengganti kertas, dan tentunya akan lebih praktis dari kertas. Gimana seandainya tulisan tidak perlu lagi dicetak atau dibuat diatas kertas? Cukup ketik dan simpan. Kalau mau lihat ya buka file saja. Apa sesederhana itu? Iya memang sesederhana itu. Nanti bumi akan dikuasai generasi manusia yang tidak biasa melakukan ‘ritual’ print, dan sekarang pun sudah mulai banyak. Coba sadari aja deh, dulu kalau mau baca file rasanya lebih afdol kalau diprint. Tapi sekarang rasanya ga perlu lagi ah, malas! Kan juga aturan kantor tuk hemat kertas.

Teman waktu itu bilang “menurutmu yang mana pada umumnya lebih aman disimpan: file soft copy atau hard copy?” Langsung dia lanjut bilang “pasti hard copy kan?!” Dan saya tidak bisa sanggah itu karena saya masih bagian dari generasi yang suka nge-print. Tapi saya lupa sanggah balik bilang “seberapa banyak file pekerjaan yang kamu print, dan seberapa banyak yang kamu cukup simpan dalam bentuk soft copy di harddisk komputer atau di flash drive atau di external harddisk atau di server?” Hahaha.

Tidak bisa dipungkiri kalau dokumen seperti akta atau surat-surat penting yang memerlukan bukti legal, semuanya masih perlu disimpan dalam bemtuk hard copy di atas kertas. Tapi sekali lagi zaman sekarang sih sistem e-document masih baru mulai. Nanti pasti ga perlu lagi, semua data sudah tersimpan dan akan hanya butuh pengenalan sidik jari atau mata atau anggota tubuh lain untuk tampilkan itu di komputer orang atau instansi atau lembaga yang meminta untuk melihatnya.

Ada lagi yang masih akan butuh kertas: artwork atau benda yang dibuat dengan kesadaran akan seni. Misalnya orang masih akan buat origami, atau ornamen dari kertas. Juga misalnya wadah makanan atau minuman yang terbuat dari kertas, itu masih akan dibutuhkan walaupun nantinya akan hanya butuh industri rumahan untuk penuhi permintaan.

Sekarang pertanyaannya apakah yang mungkin akan menggantikan peran kertas itu? Ada beberapa kemungkinan. Pertama, apabila komputer masih dipergunakan, mungkin sistem penyimpanan soft copy file akan semakin dipermudah dan dibuat seringkas atau sekecil mungkin. Kedua, teknologi firtual reality akan makin berkembang. Tulisan atau gambar akan bisa tampil di ruang udara. Ketiga, mungkin ga perlu ada file tulisan atau gambar lagi. Manusia akan memiliki efektifitas penyimpanan memori yang luar biasa (sekarang mungkin dianggap luar biasa) sehingga tidak perlu foto atau tulisan untuk dilihat atau dibaca untuk kembali mengingatnya. Gimana kalau mau sharing ingatan itu? Ya cukup ‘tatap mataku, sentuh tanganku dan rasakan memorinya’ hahaha. Dan ada lagi kemungkinan cara-cara yang saya belum bisa prediksi sekarang.

Salam,

Mikha, 14 Januari, jam 23:15 WITA, masih di Balikpapan.

Susahnya hidup sebagai minoritas dalam hal agama di tanah kelahiranku

Kalau coba ingat-ingat pengalaman hidup di tanah kelahiran sendiri, ujung-ujungnya jadi berfikir “ternyata lumayan susah jadi penganut agama minoritas tertentu di sana”.

Sembilan tahun yang lalu kutinggalkan tanah kota kelahiranku untuk jadi perantau di pulau lain, coba cari hidup baru. Salahsatu yang kutemukan di tempat baru yaitu ternyata saya tidak seminoritas di tanah kelahiran, itu dalam hal agama. Di kota baru di pulau baru rasanya persentase penganut agama seperti saya lebih besar. Dan gembiranya lagi ternyata penduduknya lebih santun, lebih bisa bertoleransi, lebih biasa hidup dalam lingkungan yang penganut agamanya beragam. Syukurlah.

Berdasarkan pengalaman pribadi di kota kelahiranku, being minority in religion means more struggle in life. Dari bapak yang ga bakal bisa jadi KepSek di sekolah negeri lah walaupun dia sudah golongan tinggi dan super senior, intimidasi kecil-kecilan dari teman sekolah lah, razia di jalan dan di kampus terhadap orang-orang yang beragama seperti kami lah, sampai masa-masa mencekam akibat imbas dari adanya konflik berbau agama di daerah lain di Indonesia dan di dunia.

Kota kelahiranku mungkin salahsatu yang paling sensitif terhadap isu-isu agama. Masih teringat masa konflik berbau agama di Ambon, dan konflik serupa tapi ada ‘bumbu’ kesukuan di daerah Poso, Sulawesi Tengah. Di jalan utama di depan sebuah kampus universitas yang berbasiskan agama, sering ada razia KTP oleh mahasiswa untuk cari orang-orang beragama seperti saya. Belum lagi di dalam kampus universitas negeri tempat saya kuliah, sering juga ada razia yang sama dengan cara memeriksa penumpang angkot yang lewat. Sempat hampir kena waktu itu, untungnya sekuriti kampus peringatin duluan sekitar 250 meter sebelum lokasi razia. Apa akibatnya kalau terjaring razia itu? Kata orang sih paling ringan disuruh ngucapin kalimat tertentu. Kalau tidak mau bakal diturunkan dari angkot lalu ada perlakuan fisik dan psikis. Sayangnya waktu itu media televisi belum sebooming sekarang dan media/jejaring sosial sekelas facebook, twitter, instagram dan sebagainya belum ada. Jadi itu belum pernah jadi topik yang diangkat dan diungkap secara blak-blakan ke publik.

Tapi menurut logika otakku yang orang beragama minoritas ini, kenapa sih orang harus berbuat anarkis berlebihan dan bukan pada tempatnya, atas dasar agama atau membela agama? Itu seharusnya tidak perlu. Bukankah dasarnya agama tidak mengajarkan kekerasan dan penindasan?

Dan satu lagi logika primitif, nenek moyang saya berasal dari pulau itu, propinsi itu. Nenek moyang saya dan mereka sama penduduk asli pulau. Dulu nenek moyang kami sama tidak mengenal Tuhan alias animisme atau dinamisme. Agama berbeda yang kemudian datang dan dikenal lalu dianut masing-masing harusnya tidak memecah ikatan rasa kebangsaan. Kita ini berasal dari bangsa yang sama. Jangan mereka yang datang dengan ajaran agama dari benua jauh diagung-agungkan, sedangkan tetangga sebangsa di samping rumah hendak dilukai.

Salam satu bangsa,

Mikha, 6 Januari 2015, jam 23:23 WITA, masih di Balikpapan.

Komputer yang lebih canggih atau yang lebih canggih dari komputer

Kata bang Wikipedia komputer adalah alat yang dipakai untuk mengolah data menurut prosedur yang telah dirumuskan. Katanya lagi dulunya sih komputer itu justru orangnya, yang lakukan perhitungan aritmetika dengan atau tanpa mesin. Tapi belakangan berubah jadi mesinnya yang disebut komputer.

Basis teknologi maju sekarang sih komputerisasi. Coba lihat robot, dasarnya kan pengolahan data atau peng-programan atau komputer. Mau kembangkan bibit tanaman yang unggul alias varietas unggul, perlu komputer untuk olah semuanya. Bahkan ilmu biologi yang hebat seperti genetika perlu komputer. Intinya ga ada yang hi-tech tanpa komputer sebagai intinya.

Tapi kira-kira gimana yah komputer di masa depan? Dari bentuk kira-kira kapan yah kita bisa pakai layar transparan seperti di film? Atau komputer kompleks bisa ga ya nanti hanya seukuran memory card? Atau komputer yang ditanam dalam tubuh makhluk hidup untuk bikin manusia hibrida? Itu semua masih belum benar-benar maju menurutku.

Mari berfikir keluar dari biasa. Gimana seandainya ada komputer yang bukan berupa perangkat elektronika? Ga butuh listrik, ga butuh kabel, ga butuh chip processor dan sebagainya. Gimana seandainya mesin pengolah data selevel komputer itu berupa makhluk hidup atau mesin biologi?

Atau begini saja, sekalian manusianya saja yang ditingkatkan kemampuan menggunakan kapasitas otaknya menjadi setidaknya 50% aja lah, itu pasti sudah jadi manusia super. Jadi ga butuh komputer lagi. Istilah komputer dikembalikan ke sejatinya, yaitu orang atau manusianya.

Menurutku sih bisa saja ada mesin mutakhir sejenis komputer tapi dalam bentuk yang sangat berbeda dari komputer.

Salam,

Mikha, 3 Januari 2015, jam 18:26 WITA, masih di Balikpapan.

Mungkinkah manusia dikirim lewat fiber optik atau dalam bentuk gelombang elektromagnetik?

Beberapa bulan lalu ada film fiksi ilmiah baru yang ingatkan aku lagi tentang ide transportasi manusia melalui kabel optik atau dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Mungkin sudah pernah ada film atau tulisan atau sejenisnya yang punya ide ini, sayangnya saya ga tahu keberadaan mereka.

Dasar munculnya ide ini ada 2 dan cukup sederhana. Pertama, kalau suara atau audio dan gambar atau video bisa di dikirim dengan cara tersebut, kenapa manusia tidak? Well, sudah ada banyak bantahan teman dengan alasan-alasan masing-masing yang mau mentahkan ini. Tapi ada dasar ide kedua, yaitu energi. Hukum energi: “energi dapat berpindah, dapat dirubah bentuknya, tapi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Nah lho!!!

Batu yang dalam keadaan diam pun memiliki energi potensial. Batu diam itu kalau digelindingkan akan mengandung energi. Mau rasakan energinya? Coba aja rasakan hantamannya. Coba biarkan batu itu di bawah terik matahari maka ada energi baru yang muncul. Mau tahu energinya? Coba sentuh dan rasakan panasnya. Berarti memang energi dapat berpindah dan dirubah kan? Iya dong. Ia hanya butuh sesuatu bantuan atau juga katalis untuk terlaksananya perpindahan atau perubahannya.

Seperti halnya batu, tubuh manusia juga adalah energi dan mengandung energi. Gimana cerita aplikasinya teorinya pada manusia yang notabene makhluk hidup? Yang adalah mesin biologi, yang mesin tersebut harus beroperasi normal agar ia tetap bisa dikatakan manusia hidup? Saya yakin itu bisa diaplikasikan terhadap manusia. Bayangkan tubuh kita, manusia, dirubah menjadi sesuatu yang bisa dikirimkan melalui fiber optik. Sesampainya di destinasi dapat dikembalikan menjadi mesin biologi manusia yang normal lagi.

Tapi proses transformasi itu butuh alat tentunya. Nah, alat inilah yang jadi inti kesuksesan ide ini. Mari kita tidak hanya berfikir bahwa alat tersebut pastilah berupa mesin hi-tech. Gimana seandainya si pembuat transformasi tersebut malah berupa unsur kimia alam sederhana yang tidak perlu rekayasa engineering tingkat tinggi untuk diciptakan? Satu yang wajib dimiliki oleh transformer tersebut: wajib bisa merubah dan mengembalikan ke kondisi awal tanpa cacat atau efek jangka pendek maupun jangka panjang yang bisa merusak mesin biologi manusia.

Saya yakin transportasi, pengiriman atau teleportasi manusia di masa akan datang akan bisa dilakukan lewat fiber optik atau gelombang elektromagnetik. Pasti hanya butuh setidaknya 2 detik untuk proses teleportasi manusia Indonesia ke Inggris. Pertanyaannya adalah apakah saya dan kita semua yang ada sekarang masih akan hidup untuk saksikan atau malah alami itu? Semoga masih.

Salam,

Mikha, 1 Januari 2015, jam 15:07 WITA, masih di Balikpapan.