maket view from sea

maket view from sea

bird view

Keterangan gambar:

1. Opera Theatre

2. Drama Theatre

3.Teater Terbuka

4. Posisi Sculpture (tidak dicantumkan dalam maket)

5. Plaza

6. Taman & Gazebo

7. Gazebo dengan sculpture

8. Entrance ke parkir basement

—-Tulisan ini bukanlah suatu karya ilmiah yang perlu analisis kuat dan sumber-sumber referensi metode, formula atau pola yang valid. Saya tidak akan perlu dan tidak merasa perlu mencantumkan catatan kaki berupa sumber dan data pustaka untuk meyakinkan pembaca.—-

Makassar Opera House

Asal-usul, Tujuan dan Proses

Sebuah wacana pribadi saya tentang bagaimana olahan wadah yang sekiranya bisa mengakomodasi kegiatan-kegiatan teater dalam suatu kompleks Opera House, dalam hal ini saya namakan Makassar Opera House.

Wadah ini adalah sebuah pengajuan saya untuk Tugas Akhir sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknik di bidang Arsitektur pada Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin – Makassar, tahun 2003. Sebuah pengajuan yang pada waktu itu sebelumnya telah saya ajukan pada Dosen Pembimbing (Bapak Prof. DR. Ir. Ananto Yudono, M.Eng sebagai pembimbing I dan Ibu Ir. Riekje Hehanussa Pangkarego sebagai pembimbing II), telah melalui proses pembahasan pada seminar judul dan seminar hasil, telah melalui suatu proses asistensi pada kedua dosen pembimbing sejak Juli 2002 sampai Desember 2002 untuk tahap pembuatan TOR (Term of Reference) atau Acuan Perancangan, telah diwujudkan dalam bentuk gambar desain pada Studio Akhir Arsitektur periode Desember 2002 – Maret 2003, telah dipertanggungjawabkan dalam Ujian Akhir pada sekitar tanggal 13 Maret 2003 dan berhak memperoleh nilai A.

Selain puluhan literatur dan masukan dari dosen pembimbing, ada sumber lain yang memberikan banyak sumbangan ide dan pengetahuan bagi saya dalam proses desain, mereka adalah praktisi-praktisi teater di Makassar, antara lain:

  1. Ibu Andi Ummu Tunru yang pada waktu itu sebagai ketua Dewan Kesenian Makassar,
  2. Bapak Fahmi sebagai praktisi senior dan pembimbing teater di Makassar,
  3. Pengelola Gedung Kesenian Makassar (Societeit de Harmonie)
  4. Seorang Dosen tater UNM dan Praktisi teater yang namanya aku lupa dengan bantuan buku-bukunya yang karya J Michael Gillette tentang Lighting.

Filosofis Bentuk

Ada ungkapan yang masing-masing mempunya arsitek pendukung dengan alasan mereka masing-masing untuk menggunakannya, yaitu:

  1. Form follows function dan
  2. Function follows form.

Saya menggunakan kedua pola tersebut untuk proses desain saya pada Makassar Opera House, tetapi pada daerah yang berbeda. Yang saya adalah begini:

  1. Untuk desain ruang dalam/interior khususnya pada Opera Theatre saya mengikuti azas form follows function, dimana bentuk ruang harus mengacu pada terpenuhinya kebutuhan akustik ruang yang semaksimal mungkin. Ukuran ruang juga mengacu pada hasil analisa jumlah spectator/penonton.
  2. Untuk tampilan eksterior bangunan saya mengikuti azas function follows form. Fungsi essensial eksterior bangunan menurut saya dapat dipinggirkan sejenak untuk kemudian diolah sedemikian rupa nantinya setelah mendapatkan dasar bentuk yang diinginkan. Pada Makassar Opera House ini saya sangat ingin menampilkan suatu karakter bangunan dengan ciri layar *lopi* dan sorban khas laki-laki suku makassar, yang sekiranya dapat ditemukan pada bagisn depan bangunan. Selain itu, bentuk bujursangkar dan simetris sangat ingin saya tampilkan. Bujursangkar adalah salahsatu pola paling dasar dang menurut saya yang paling kuat dan paling *abadi*. Untuk membantu melembutkan kesan bujursangkar yang kaku, saya menambahkan elemen lingkaran dengan material kaca (tidak berkesan massif) dan warna yang lebih muda pula.

Bentuk atap yang berupa tumpukan kotak-kotak dengan pola gelombang tertentu merupakan ide saya untuk membuktikan bahwa sesuatu yang kaku pun dapat dibuat dinamis dengan irama yang mengalun – seandainya itu adalah musik.

Penggunaan warna hitam dan orange secara dominan adalah ide saya untuk mendobrak kata-kata *jangan* dari banyak orang termasuk dosen pembimbig saya pada waktu itu. Hal ini tidak perlu saya bahas namun dapat diperdebatkan.

Konsep Dasar dan Olahan Ruang

Ruang terbentuk berdasarkan kegiatan yang ingin diakomodasikan, karakteristik ruang terbentuk berdasarkan karakteristik kegiatan dan tuntutan kegiatan. Berdasarkan prinsip tersebut, maka terbentuklah 3 ruang utama untuk Makassar Opera House ini, yaitu:

  1. Opera Theatre, untuk pementasan teater musical, konser musik philharmonic, dsb. Pembahasan mengenai kebutuhan gema dan gaung untuk Opera Theatre tidak akan saya bahas di sini.
  2. Drama Theatre, untuk pementasan teater tradisional dan yang mengandalkan eksplorasi olah gerak dan suara aktor, dimana kejelasan intonasi dan sudut pandang maksimal terhadap pementas sangat penting.
  3. Teater Terbuka, untuk pementasan teater yang bersifat praktikal, latihan-latihan, dan dikhususka untuk yang non komersil. Pementasan demikian akan lebih tepat apabila dilakukan pada ruang terbuka.

Saya tidak akan mengungkap detail ruang-ruang pendukung seperti rehearsal, media, ruang-ruang pengelola, dan banyak lagi dan penataannya dalam rangka interkonektivitas ruang-ruang pendukung tersebut dengan ruang-ruang teater utama. Namun ada beberapa ruang terbuka dan tertutup serta elemen yang rasanya perlu saya ungkap:

  1. Plaza segitiga, dengan ukuran yang kuranglebih sama dengan luas lantai utama Opera Theatre. Posisinya tepat pada entrance tapak dan diatur sedemikian rupa agar dari posisi tersubut orang dapat dengan maksimal memandang ke arah tampilan bangunan.
  2. Sculpture, sebentuk patung manusia non-sexuality dengan pose manyambut kedatangan, setinggi 10-an meter, terbuat dari tembaga non finishing. Dikeliling dengan kolamuntuk menjaga kondisi kelembaban udara pada saat angin berhembus dari arah jalan.
  3. Gazebo dan taman-taman untuk beristirahat, mengobrol, berdiskusi, latihan teater, dsb. Dengan desain yang dibuat sedemikian rupa untuk membangkitka gairah bereksplorasi dalam teater.
  4. Ruang Parkir basement yang terletak lebih rendah dari elevasi jalan, sengaja dibuat terpisah dari daerah sirkulasi pejalan kaki untuk menghindari terjadinya konflik kedua sirkulasi tersebut.

Perlu dicatat bahwa seluruh area kompleks Makassar Opera House dapat diakses oleh publik dengan gratis atau merupakan area publik. Kecuali bagian dalam gedung dan parkiran yang terbatas dengan konsep security yang tidak akan saya bahas di sini. Seluruh bagian kompleks juga dapak diakses oleh pemakai kursi roda dengan tersedianya ramp-ramp yang berdampingan dengan tangga.

Vegetasi juga dipertimbangkan dan desainnya difikirkan sedemikian rupa untuk meminimalisir efek kebisingan dari jalan, mengatur kesejukan udara dan penyaringan debu.

Tapak

Idealnya tapak dibahas sebelum olahan ruang, tapi karena ini adalah pembahasan tentang sesuatu yang sebelumnya telah diwujudkan dalam bentuk desain yang modelnya dapat dilihat, maka tingkat urgensinya saya tempatkan setelah konsep dasar dan olahan ruang.

Secara spesifik tidak akan saya ungkap posisi tapak, tetapi berasarkan hasil analisa dari 3 alternatif, maka tapak atau site yang memiliki poin terbanyak adalah pada Jalan Rajawali. Tepatnya pada posisi antara Jalan Metro Tanjung Bunga (Jl. H.M. Daeng Patompo-sekarang) dengan Jalan Rajawali. Tapak aslinya merupakan daerah peelelangan ikan yang menurut saya tidah relevan lagi untuk diposisikan di situ, yang pada prosesnya akan dibutuhkan reklamasi. Seluruh perimeter yang menghadap ke laut akan lakukan dengan retaining wall berupa concrete sheet pile.

Penataan sirkulasi kendaraan pada Jalan Rajawali yang berhadapan langsung dengan tapak juga akan mengalami re-desain, yan tidak akan saya bahas di sini. (dapat dilihat pada gambar).

Struktur Bangunan

Secara sederhana dapat saya tuliskan bahwa struktur utama dari keseluruhan kompleks adalah struktur beton bertulang dengan pondasi pancang beton bertulang.

Sedangkan *skin* yang membungkus hampir sebagisn besar eksterior Opera Theatre dan Drama Theatre menggunakan konstruksi baja yang bebannya diteruskan pada struktur utama bangunan. *Skin* tersebut merupakan perpaduan antara lempengan tembaga dan kaca berwarna dengan frame baja profil. Melalui frame baja profil inilah beban yang terjadi pada *skin* diteruskan ke struktur utama bangunan.

Untuk atap menggunakan space deck dan canopy entrance secara spesifik menggunakan space frame dengaan ball joint. Lempengan permukaan atap menggunakan produk spesifik yang mengacu pada merek tertentu dan tidak akan saya ungkapkan di sini.

Akustik dan Tata Cahaya

Suatu gedung teater pada intinya akan membahas mengenai solusi akustik, dan pada kesempatan lain juga akan mengakomodir sistem tata cahaya. Namun pembahasan akustik dan tata cahaya akan sangat panjang dan perlu sampai mendetail, maka itu tidak akan saya paparkan di sini. Mungkin pada posting lain akan saya ungkap. Tetapi prinsip dasar kebutuhan akustiknya dapat dilihat pada konsep dasar dan olahan ruang untuk Opera Theatre dan Drama Theatre.