Untuk kamu yang sempat membuatku terbenam,
terkurung dalam harapan hampa tak pasti:
Mungkin kau sangsi bahwa aku dulu tulus.

Ingin kurengkuh ragamu,
membelai rambutmu yang hitam panjang,
mengecup keningmu.
Ingin kudekap rapat-rapat
dan kuteteskan air mata sengsaraku di pundakmu
sampai kurasakn auramu.

Mungkin kau tak percaya bahwa aku dulu tulus.

Kubawa kau dalam doaku sebelum tidur.
Kupinta Tuhan
agar kupikul sebagian bebanmu
sebagai empatiku untukmu.
Dan kulipat jariku dalam rapat di diam doaku
sampai kurasakan pahit hidupmu.

Mungkin tak pernah kau tangkap gelisahku yang tulus.

Dalam hening sendiri di kamarku,
di tengah hembusan udara beranda
kutunggu kemu bergumul resah di hatiku
sembari menatap lurus jalan pergimu.
Dan pasti akan masih ada aku di situ
sampai kutemukan jalan kembalimu.

Tetapi seiring pastimu yang semakin suram,
setapak demi setapak aku kembali dan menghapus jejakku.
Semoga kutemukan di mana aku mulai.
Dan dari situ aku akan berbelok untuk tapak kaki yang baru,
mengharapkan tujuan pasti.
Dan seharusnya itu akan mudah kulakukan.
Balikpapan, 30 Mei 2006