“Kalau lima puluh tahun yang akan datang sih jalan kita ini ga bakal dipakai lagi mungkin, atau kalau dipakai ya tidak akan jadi kebutuhan utama. Paling untuk orang yang memang pengen jalan kaki saja”

Itu kataku sekitar 10 tahun lalu, sekitar bulan Oktober atau November 2004, sebelum teman-teman pada cabut dari lokasi untuk libur Lebaran. Waktu itu aku bekerja sebagai engineer struktur dan drainase untuk sebuah kontraktor swasta yang sedang mengerjakan proyek jalan. Nama proyeknya EIB EIRTP Package-38 Siboang – Ogoamas, panjang proyeknya 26km. Lokasinya tepat di leher pulau Sulawesi, propinsi Sulawesi Tengah, masih termasuk kabupaten Donggala. Udah ga terlalu jauh dari kota Tolitoli.

Kembali ke kalimat ucapanku di awal, itu terucap refleks waktu seorang tenaga konsultan pengawas (waktu itu Yodya Karya) yang umurnya sepantaran saya bilang “Konstruksi jalan yang akan sedang kita buat harus bisa bertahan 50 tahun”. Aku tahu itu kata-kata titipan dari site managernya dia yang dititip dari pengawas PU yang juga dapat titipan dari PimBagPro nya yang juga dapat warisan kata dari PimPro nya hahaha…..

Tapi anyway, memang spek proyeknya ada di level atas. Secara itu proyek pakai dana bantuan Bank Dunia. Trus kami berada di lokasi ‘surganya’ material, sungai- sungai di sulawesi tengah penuh dengan SirTu alias pasir batu. Tinggal set up stone crusher di samping kuarry lengkap dengan screen untuk pisahkan batu boulder makanan stone crushernya. SirTu saringnya untuk urugan pilihan dan LPB, batu boulder di-feed ke stone crusher untuk buat batu pecah dan abu batu sesuai ukuran yang dibutuhkan untuk LPA, HRS base, HRS WC. Batu mangga untuk buat saluran drainase samping yang sistem cast on site. Batu kali besar untuk talud, pondasi dan wing wall slab culvertnya, head wall RCP culvert, pokoknya semua ada deh. Ga usah tanya ambil pasirnya dari mana, noh ambil pake excavator langsung dari sungai.

Sorry udah jauh bahasnya. Kembali ke alasan kalimat ucapanku di awal tulisan ini.  Aku, yang agak gaptek aja (waktu itu malah belum tahu pake hand phone), sudah berfikir mungkin dalam 30 tahun ke depan kendaraan transportasi kita udah pada terbang-terbang di udara. Eh mereka yang udah pada punya HaPe (walaupun ga bisa kepake karena ga ada jaringan), bilang harus kuat ampe 50 tahun ckckckck. Ga masuk akal. Dengan spek dan desain yang jadi acuan,  dengan pengawasan yang super ketat, paling akan rusak dalam jangka waktu 3 tahun selepas completion. Secara lingkungannya yang ekstrim di lereng gunung yang langsung nyambung pantai. Paling longsor jadi masalah utama.

Intinya sebenarnya gini: sistem transportasi, bahkan secara umum teknologi, bakal sangat berkembang. Buka wawasan dan persiapkan diri akan kemungkinan bahwa akan ada teknologi baru. Jangan terjebak dengan pengetahuan dan teknologi yang sedang kita pergunakan sekarang. Selalu ada hal-hal baru yang lebih mutakhir akan muncul, bahkan itu juga bakal disingkirkan oleh teknologi lebih mutakhir lagi. Selama masih ada manusia yang berfikir maju dan melakukan riset.

Salam,

Mikha, 1 Januari 2015, jam 01:50 WITA. Masih di kota Balikpapan.