Kalau coba ingat-ingat pengalaman hidup di tanah kelahiran sendiri, ujung-ujungnya jadi berfikir “ternyata lumayan susah jadi penganut agama minoritas tertentu di sana”.

Sembilan tahun yang lalu kutinggalkan tanah kota kelahiranku untuk jadi perantau di pulau lain, coba cari hidup baru. Salahsatu yang kutemukan di tempat baru yaitu ternyata saya tidak seminoritas di tanah kelahiran, itu dalam hal agama. Di kota baru di pulau baru rasanya persentase penganut agama seperti saya lebih besar. Dan gembiranya lagi ternyata penduduknya lebih santun, lebih bisa bertoleransi, lebih biasa hidup dalam lingkungan yang penganut agamanya beragam. Syukurlah.

Berdasarkan pengalaman pribadi di kota kelahiranku, being minority in religion means more struggle in life. Dari bapak yang ga bakal bisa jadi KepSek di sekolah negeri lah walaupun dia sudah golongan tinggi dan super senior, intimidasi kecil-kecilan dari teman sekolah lah, razia di jalan dan di kampus terhadap orang-orang yang beragama seperti kami lah, sampai masa-masa mencekam akibat imbas dari adanya konflik berbau agama di daerah lain di Indonesia dan di dunia.

Kota kelahiranku mungkin salahsatu yang paling sensitif terhadap isu-isu agama. Masih teringat masa konflik berbau agama di Ambon, dan konflik serupa tapi ada ‘bumbu’ kesukuan di daerah Poso, Sulawesi Tengah. Di jalan utama di depan sebuah kampus universitas yang berbasiskan agama, sering ada razia KTP oleh mahasiswa untuk cari orang-orang beragama seperti saya. Belum lagi di dalam kampus universitas negeri tempat saya kuliah, sering juga ada razia yang sama dengan cara memeriksa penumpang angkot yang lewat. Sempat hampir kena waktu itu, untungnya sekuriti kampus peringatin duluan sekitar 250 meter sebelum lokasi razia. Apa akibatnya kalau terjaring razia itu? Kata orang sih paling ringan disuruh ngucapin kalimat tertentu. Kalau tidak mau bakal diturunkan dari angkot lalu ada perlakuan fisik dan psikis. Sayangnya waktu itu media televisi belum sebooming sekarang dan media/jejaring sosial sekelas facebook, twitter, instagram dan sebagainya belum ada. Jadi itu belum pernah jadi topik yang diangkat dan diungkap secara blak-blakan ke publik.

Tapi menurut logika otakku yang orang beragama minoritas ini, kenapa sih orang harus berbuat anarkis berlebihan dan bukan pada tempatnya, atas dasar agama atau membela agama? Itu seharusnya tidak perlu. Bukankah dasarnya agama tidak mengajarkan kekerasan dan penindasan?

Dan satu lagi logika primitif, nenek moyang saya berasal dari pulau itu, propinsi itu. Nenek moyang saya dan mereka sama penduduk asli pulau. Dulu nenek moyang kami sama tidak mengenal Tuhan alias animisme atau dinamisme. Agama berbeda yang kemudian datang dan dikenal lalu dianut masing-masing harusnya tidak memecah ikatan rasa kebangsaan. Kita ini berasal dari bangsa yang sama. Jangan mereka yang datang dengan ajaran agama dari benua jauh diagung-agungkan, sedangkan tetangga sebangsa di samping rumah hendak dilukai.

Salam satu bangsa,

Mikha, 6 Januari 2015, jam 23:23 WITA, masih di Balikpapan.